Translate

Rabu, 19 Oktober 2016

Ghirah Sang Buya Hamka

Assalamu'alaikum bpk-ibu
Ghirah Sang Buya
Mungkin banyak yang sudah melupakan buku Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam karya Buya Hamka. Buku itu memang tipis saja, nampak tidak sebanding dengan koleksi masif seperti Tafsir Al Azhar, namun tipisnya buku tidak identik dengan kurangnya isi, apalagi pendeknya visi. Sesuai judulnya, buku tersebut membahas masalah-masalah seputar ghirah dengan bercermin pada kasus-kasus yang terjadi di Indonesia. Meskipun buku ini diterbitkan pada awal tahun 1980-an, pada kenyataannya masih banyak pelajaran yang dapat kita ambil untuk dipraktekkan dalam kehidupan di masa kini.

Buya Hamka memulai uraiannya dengan sebuah kasus yang dijumpainya di Medan pada tahun 1938. Seorang pemuda ditangkap karena membunuh seorang pemuda lain yang telah berbuat tidak senonoh dengan saudara perempuannya. Sang pemuda pembunuh itu pun dihukum 15 tahun penjara. Akan tetapi, tidak sebagaimana narapidana pada umumnya, sang pemuda menerima hukuman dengan kepala tegak, bahkan penuh kebanggaan. Menurutnya, 15 tahun di penjara karena membela kehormatan keluarga jauh lebih mulia daripada hidup bebas 15 tahun dalam keadaan membiarakan saudara perempuannya berbuat hina dengan orang.

Dalam sejarah peradaban Indonesia, suku-suku lain pun memiliki semangat yang tidak kalah tingginya dalam menebus kehormatan. Menurut Hamka, bangsa-bangsa Barat sudah lama mengetahui sifat ini. Mereka telah berkali-kali dikejutkan dengan ringannya tangan orang Bugis untuk membunuh orang kalau kehormatannya disinggung. Demikian pula orang Madura, jika dipenjara karena membela kehormatan diri, setelah bebas dari penjara ia akan disambut oleh keluarganya, dibelikan pakaian baru dan sebagainya. Orang Melayu pun dikenal gagah perkasa kalau sampai harga dirinya disinggung. Bila malu telah ditebus, biasanya mereka akan menyerahkan diri pada polisi dan menerima hukuman yang dijatuhkan dengan baik.

Di masa lalu, anak-anak perempuan di ranah Minang betul-betul dijaga. Para pemuda biasa tidur di surau untuk menjaga kampung, salah satunya untuk menjaga agar anak-anak gadis tidak terjerumus dalam perbuatan atau pergaulan yang menodai kehormatan kampung. Pergaulan antara lelaki dan perempuan dibolehkan, namun ada batas-batas tegas yang jangan sampai dilanggar. Kalau ada minat, boleh disampaikan langsung kepada orang tua.

Di jaman Rasulullah saw. dulu pernah ada juga kejadian dahsyat yang berawal dari suatu peristiwa (yang mungkin dianggap) kecil saja. Seorang perempuan datang membawa perhiasannya ke seorang tukang sepuh Yahudi dari kalangan Bani Qainuqa’. Selagi tukang sepuh itu bekerja, ia duduk menunggu. Datanglah sekelompok orang Yahudi meminta perempuan itu membuka penutup mukanya, namun ia menolak. Tanpa sepengetahuannya, si tukang sepuh diam-diam menyangkutkan pakaiannya, sehingga auratnya terbuka ketika ia berdiri. Jeritan sang Muslimah, yang dilatari oleh suara tawa orang-orang Yahudi tadi, terdengar oleh seorang pemuda Muslim. Sang pemuda dengan sigap membunuh si tukang sepuh, kemudian ia pun dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Perbuatan yang mungkin pada awalnya dianggap sebagai candaan saja, dianggap sebagai sebuah insiden serius oleh kaum Muslimin. Rasulullah saw. pun langsung memerintahkan pengepungan kepada Bani Qainuqa’ sampai mereka menyerah dan semuanya diusir dari kota Madinah.

Itulah ghirah, yang diterjemahkan oleh Buya Hamka sebagai “kecemburuan”.

Penjajahan kolonial di Indonesia membawa masuk pengaruh Barat dalam pergaulan muda-mudi bangsa Indonesia. Pergaulan lelaki dan perempuan menjadi semakin bebas, sejalan dengan masifnya serbuan film-film Barat. Batas aurat semakin berkurang, sedangkan kaum perempuan bebas bekerja di kantor-kantor. Demi karir, mereka rela diwajibkan berpakaian minim, sedangkan keluarganya pun merasa terhormat jika mereka punya karir, tidak peduli bagaimana caranya. Tidak ada lagi kecemburuan.

Tidak ada yang boleh marah melihat anak perempuannya digandeng pemuda yang entah dari mana datangnya. Suami harus lapang dada kalau istrinya pergi bekerja dengan standar berpakaian yang jauh dari syariat, karena itulah yang disebut “tuntutan pekerjaan”.

Sesungguhnya ghirah itu merupakan bagian dari ajaran agama. Pemuda Muslim yang membela saudarinya dari gangguan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ menjawab jerit tangisnya karena adanya ikatan aqidah yang begitu kuat. Menghina seorang Muslimah sama dengan merendahkan umat Islam secara keseluruhan.
Ghirah adalah konsekuensi iman itu sendiri. Orang yang beriman akan tersinggung jika agamanya dihina, bahkan agamanya itu akan didahulukan daripada keselamatan dirinya sendiri. Bangsa-bangsa penjajah pun telah mengerti tabiat umat Islam yang semacam ini. Perlahan-lahan, dikulitinyalah ghirah umat. Jika rasa cemburunya sudah lenyap, sirnalah perlawanannya.

Buya Hamka mengkritik keras umat Muslim yang memuji-muji Mahatma Gandhi tanpa pengetahuan yang memadai. Gandhi memang dikenal luas sebagai tokoh perdamaian yang menganjurkan sikap saling menghormati di antara umat beragama, bahkan ia pernah mengatakan bahwa semua agama dihormati sebagaimana agamanya sendiri. Pada kenyataannya, Gandhi berkali-kali membujuk orang-orang dekatnya yang telah beralih kepada agama Islam agar kembali memeluk agama Hindu. Kalau tidak dituruti keinginannya, Gandhi rela mogok makan. Itulah sikap sejatinya, yang begitu cemburu pada Islam, sehingga tidak menginginkan Islam bangkit, apalagi memperoleh kemerdekaan dengan berdirinya negara Pakistan.

Dua dasawarsa lebih berlalu dari wafatnya Hamka, nyatalah bahwa hilangnya ghirah adalah salah satu masalah terbesar yang menggerogoti umat Islam di Indonesia. Sekarang, orang tua pun rela menyokong habis-habisan anak perempuannya untuk menjadi mangsa dunia hiburan. Para ibu mendampingi putri-putrinya mendaftarkan diri di kontes-kontes model dan kecantikan, yang sebenarnya hanya nama samaran dari kontes mengobral aurat.

Kalau kepada putri sendiri sudah lenyap kepeduliannya, kepada agamanya pun begitu. Makanan fast food dikejar karena prestise, tak peduli keuntungannya melayang ke Israel untuk dibelikan sebutir peluru yang akhirnya bersarang di kepala seorang bayi di Palestina. Kalau ada yang menyeru orang untuk membela Palestina, maka tidak nasionalislah dia, karena di tanah air masih banyak yang mati lapar, sedangkan ia hendak menolong orang di seberang lautan. Padahal yang menyumbang untuk Palestina adalah juga mereka yang berkubang menolong orang-orang miskin di tanah air, sedangkan yang menyindir itu sejatinya tidak pernah membantu umat, baik di tanah air maupun di tanah seberang. Kalau dulu seluruh kekuatan militer umat Islam dikerahkan untuk mengepung Bani Qainuqa’ hanya karena satu Muslimah dihina oleh tukang sepuh, maka kini jutaan perempuan Muslimah diperkosa, jutaan kepala bayi diremukkan dan jutaan pemuda dibunuh, namun tak ada satu angkatan bersenjata pun yang datang menolong.

Luar biasa generasi anak-cucu Buya Hamka, karena mereka telah benar-benar mati rasa dengan agamanya sendiri. Ketika anak-anak muda dibombardir dengan pornografi, maka umatlah yang dipaksa diam dengan alasan kebebasan berekspresi. Tari-tarian erotis digelar sampai ke kampung-kampung yang penduduknya tak punya cukup nasi di dapurnya, hingga yang terpikir oleh mereka hanya jalan-jalan yang serba pintas. Ramai orang mengaku nabi, sementara para pemuka masyarakat justru menyuruh umat Islam untuk berlapang dada saja. Padahal yang mengaku-ngaku nabi ini ajarannya tidak jauh berbeda: syariat direndahkan, kewajiban-kewajiban dihapuskan, para pengikut disuruh mengumpulkan uang tanpa peduli caranya, orang lain dikafirkan, bahkan para pengikutnya yang perempuan disuruh memberikan kehormatannya pada sang nabi palsu. Atas nama Hak Asasi Manusia, umat disuruh rela berbagi nama Islam dengan para pemuja syahwat.

Atas nama toleransi, dulu umat Islam digugat karena penjelasan untuk Surah Al-Ikhlash dalam buku pelajaran agama Islam dianggap melecehkan doktrin trinitas. Kini, atas nama pluralisme, umat Islam dipaksa untuk mengakui bahwa semua agama itu sama-sama baik, sama-sama benar, dan semua bisa masuk surga melalui agamanya masing-masing. Maka pantaslah bagi kita untuk merenungkan kembali pesan Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar ketika menjelaskan makna dari ayat ke-9 dalam Surah Al-Mumtahanah:
...orang yang mengaku dirinya seorang Islam tetapi dia berkata; “Bagi saya segala agama itu adalah sama saja, karena sama-sama baik tujuannya.” Orang yang berkata begini nyatalah bahwa tidak ada agama yang mengisi hatinya. Kalau dia mengatakan dirinya Islam, maka perkataannya itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena bagi orang Islam sejati, agama yang sebenarnya itu hanya Islam.

Kecemburuan adalah konsekuensi logis dari cinta. Tak ada cemburu, mustahil ada cinta.

Dan apabila Ghirah telah tak ada lagi, ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh ummat Islam itu. Kocongkan kain kafannya lalu masukkan ke dalam keranda dan hantarkan ke kuburan. (Buya Hamka)

wassalaamu’alaikum

Selasa, 18 Oktober 2016

Kebahagiaan

Renungan untuk kita semua....
Suatu ketika Margaret, istri John Maxwell (motivator top dunia) menjadi pembic ara di seminar ttg "Kebahagiaan". Maxwell, sang suami duduk mendengarkan di bangku paling depan.
Selesai ceramah, pd sesi tanya jawab, seorang ibu mengacungkan tangannya & bertanya, "Mrs. Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?" Seluruh ruangan langsung terdiam. Margaret tampak berpikir sejenak & kemudian menjawab, "Tidak..." Seluruh hadirin terkejut. "Tidak..." katanya sekali lagi, "John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia".
Hadirin langsung menoleh ke arah Maxwell. Maxwell juga me-noleh2 mencari pintu keluar. Rasanya ingin cepat2 keluar.
Kemudian, Margaret melanjutkan, "John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik. Ia tidak pernah berjudi & mabuk. Ia seorang suami yang setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia."
Seorang yang hadir bertanya, "Mengapa?" Jawabnya, "Karena *TIDAK ADA SEORANG PUN DI DUNIA INI YG BERTANGGUNG JAWAB ATAS KEBAHAGIAANKU SELAIN DIRIKU SENDIRI."* Margaret menjelaskan, "Tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, uangmu, hobimu. Semua itu tidak bisa membuatmu bahagia. Yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri. Kamulah yang bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kalau kamu selalu bersyukur, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, selalu berbuat baik, tidak punya musuh, kamu tidak akan merasa sedih. Pola pikir kitalah yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar. Bahagia tidaknya hidupmu bukan ditentukan oleh seberapa kaya dirimu, cantik istrimu/gagah suamimu, atau sesukses apa hidupmu. Bahagia itu PILIHANMU SENDIRI". Always happy and happy always. ....................................

hari ini kita mau bahagia atau tidak... adalah pilihan kita sendiri.

Senin, 17 Oktober 2016

Lihatlah Dengan Hatimu

LIHATLAH DENGAN HATIMU

S‎ebuah kapal pesiar mengalami kecelakaan di laut dan akan segera tenggelam.

Sepasang suami istri berlari menuju ke sekoci untuk menyelamatkan diri. ‎
Sampai di sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yg tersisa. 

Segera sang suami melompat mendahului istrinya utk mendapatkan tempat itu.
Sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum sekoci menjauh dan kapal itu benar2 tenggelam. ‎

Guru yg menceritakan kisah ini bertanya pada murid2nya,
_“Menurut kalian, apa yg istri itu teriakan sebelum ia tenggelam?”_

Sebagian besar murid2 itu menjawab :
_“Aku benci kamu!”_
_“Kamu tau aku buta!!”_
_“Kamu egois!”_
_"Nggak tanggung jawab!"_
_“Nggak tau malu!”_

Tapi ada seorang murid yg hanya diam saja. Guru itu meminta murid yg diam saja itu menjawab.  
Kata si murid : _“Guru, saya yakin si istri pasti berteriak, *‘Tolong jaga anak kita baik-baik...’”‎*_

Guru itu terkejut dan bertanya : _“Apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?”_

Murid itu menggeleng. _“Belum pak. Tapi itu yg dikatakan oleh ibu saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”_

Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata :
_“Jawaban ini benar.”_

_"Kapal itu kemudian benar2 tenggelam dan sang suami pulang membesarkan dan mendidik anak mereka sendirian."_

Bertahun2 kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya.

Di sana dia menemukan kenyataan bahwa, saat orangtuanya  naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kanker ganas dan akan segera meninggal. 

Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu2nya kesempatan untuk bertahan hidup.  

Dia menulis di buku harian itu,  _“Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak kita, aku terpaksa dg hati menangis membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana...”_

Cerita itu selesai. Dan seluruh kelas pun terdiam.

Guru itu kemudian menjelaskan murid2nya  hikmah dari cerita tsb.

_Bahwa, kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yg kita sering pikirkan._ Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya yg kadang sulit dimengerti.

Karena itulah kita seharusnya jangan pernah melihat hanya luarnya saja dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

_Mungkin..._

Mereka yg sering membayar untuk orang lain,  bukan berarti mereka kaya, tapi _karena mereka menghargai hubungan daripada uang._

Mereka yg bekerja tanpa ada yg menyuruh,  bukan karena mereka bodoh, tapi _karena mereka menghargai konsep tanggung jawab._

Mereka yg minta maaf duluan setelah bertengkar,   _bukan karena mereka bersalah, tapi karena mereka menghargai orang lain._

Mereka yg mengulurkan tangan untuk menolongmu,  bukan karena _mereka merasa berhutang, tapi karena menganggap kamu adalah sahabat._

Mereka yg sering mengontakmu, bukan karena _mereka tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada di dalam hatinya..."‎_mks

Sabtu, 15 Oktober 2016

Curigailah Hatimu

Bismillah:
Curigailah Hatimu…!
••••••••••••••
" ﺇﺫﺍ ﺭﺃﻳﺖ ﻗﻠﺒﻚ ﻻ ﻳﺘﺄﺛﺮ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ، ﻓﺎﺗﻬﻢ ﻧﻔﺴﻚ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺧﺒﺮ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻟﻮ ﻧﺰﻝ ﻋﻠﻰ
ﺟﺒﻞ ﻟﺘﺼﺪﻉ، ﻭﻗﻠﺒﻚ ﻳﺘﻠﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻻ ﻳﺘﺄﺛﺮ ."!! ﺍﻫـ

“Apabila engkau melihat hatimu tidak tergerak dengan Al-
Qur’an, maka curigailah dirimu!
Sebab Al-Quran ini
seandainya diturunkan kepada sebuah gunung maka akan
terpecah, sedangkan hatimu,
dibacakan atasnya Al-qur’an
tidak tergerak (sedikit pun).”
[Syarh Wasithiyyah: 374]
〰〰〰〰〰

" ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﺗﺠﺪ ﻟﻠﻌﻤﻞ ﺣﻼﻭﺓ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻚ ﻭﺍﻧﺸﺮﺍﺣﺎ ﻓﺎﺗﻬﻤﻪ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﺮﺏ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺷﻜﻮﺭ ." ﺍﻫـ

“Apabila engkau tidak mendapatkan pada hatimu manisnya
suatu amalan (yang engkau lakukan),
juga engkau tidak
mendapatkan kelapangan hati,
maka curigailah…! Sebab,
sesungguhnya Robb Ta’ala itu Syakur (Dzat yang maha
mensyukuri amalan2 hambanya,
sehingga tidak akan mungkin sesorang yang diterima amalannya tidak mendapati bekas
amalan tersebut di hatinya).”
📚Madarijussalikin 2/ 68

Oleh karena itu,
hendaknya kita betul-betul perhatikan
keadaan hati-hati kita.

Jangan sampai kita lalai dari
mengontrol keadaannya.

Jangan sampai kita merasa aman,
padahal hati ini ternyata sudah berkarat….

ﻳﺎ ﻣﻘﻠﺐ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ ﺛﺒﺖ ﻗﻠﻮﺑﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻨﻚ، ﻭﻳﺎ ﻣﺼﺮﻑ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ ﺻﺮﻑ ﻗﻠﻮﺑﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﻃﺎﻋﺘﻚ

Jumat, 14 Oktober 2016

Jadilah Yang Terbaik

Jadilah Yang Terbaik

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 14 Muharram 1438 H / 15 Oktober 2016 M
👤 Ustadz Anas Burhanuddin, MA
📔 Materi Tematik | Jadilah Yang Terbaik
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AB-Terbaik
🌐 Sumber:
https://yufid.tv/12190-ceramah-singkat-jadilah-yang-terbaik-anas-burhanuddin-ma.html
-----------------------------------

JADILAH YANG TERBAIK

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، و على آله و اصحابه ومن وله

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menciptakan kita semua dalam keadaan berbeda-beda. Berbeda jenis kelamin, warna kulit, kemampuan ekonomi, tingkat pendidikan dan ilmu, dan perbedaan yang lainnya.

Seringkali dalam perbedaan-perbedaan ini kita tidak punya pilihan. 

⇒ Ada anak yang lahir dalam keadaan cacat, buta atau lumpuh. Sementara anak yang lain lahir dengan fisik yang begitu sempurna.

⇒ Ada anak yang lahir ditengah lokalisasi sehingga dianggap remeh dan dipandang sebelah mata oleh masyarakat sekitarnya.

Sementara anak yang lain begitu terhormat,  bahkan sejak kecil menjadi pangeran bahkan raja sebelum dewasa.

⇒ Ada orang yang sudah bekerja membanting tulang sepanjang hari, sepanjang pekan, sepanjang tahun namun rejekinya tidak banyak.

Dia tidak pernah bisa keluar dari garis kemiskinan. Sementara orang lain begitu lancar rejekinya tanpa harus bercapek ria.

⇒ Ada orang yang begitu sulit belajar.

Dia sudah mengerahkan segala kemampuan dan pikirannya namun dia tidak pintar-pintar karena memang Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan dia banyak keterbatasan.

Karena dalam perbedaan-perbedaan ini kita tidak bisa mempunyai pilihan, maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak menjadikan perbedaan ini sebagai cara pandang, tidak menjadikannya sebagai parameter dan timbangan dalam menilai kita, karena Islām adalah agama yang adil.

Islām telah membuat timbangan yang adil untuk umatnya.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

_"Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian disisi Allāh adalah yang paling bertaqwa diantara kalian."_

(QS Al Hujurāt: 13)

Hal ini ditafsirkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam sebuah hadīts riwayat Muslim. 

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ  يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

_"Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak melihat kepada rupa-rupa kalian, tidak pula kepada harta-harta kalian, namun Allāh Subhānahu wa Ta'āla melihat kepada hati kalian dan amalan kalian."_

(HR Muslim nomor 4650 versi Syarh Muslim nomor 2564)

Inilah timbangan Islām yang adil, sehingga masing-masing dari kita:

√ Bisa menjadi orang yang paling bertaqwa disisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
√ Bisa menjadi orang yang berhati paling jernih.
√ Bisa menjadi orang yang beramal paling banyak.

Tanpa terhalang oleh latar belakangnya.

Kedudukan yang tinggi di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak terhalang oleh jenis kelamin yang tidak kita gemari, warna kulit yang tidak kita senangi, darah yang tidak biru, kantong yang tidak tebal atau postur kita yang pendek-pendek dan pesek-pesek.

Bahkan kedudukan yang tinggi di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak terhalang oleh ilmu kita yang kurang.

Buktinya, orang terbaik dari kalangan tābi'in bukanlah orang yang paling 'alim atau ulamā diantara mereka. 

Orang terbaik dari kalangan tābi'in yang merupakan generasi kedua umat Islām adalah seorang pria yang disebut oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam sebuah hadīts riwayat Muslim nomor 4612 versi Syarh Muslim nomor 2542:

إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِيْنَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ

_"Sebaik-baik tābi'in adalah seorang pria yang bernama Uways."_

Beliau adalah Uways bin Amir Al Qarani, siapa beliau?

Beliau bukan orang yang kaya raya, bukan orang yang berdarah biru, bukan pula pejabat dan bukan pula ulamā, beliau hanya orang biasa yang bahkan disebutkan dianggap remeh oleh masyarakatnya.

Namun dengan taqwa beliau, iman beliau, bakti beliau kepada ibu beliau dan amalan-amalan hati beliau serta kebersihan hati beliau, beliau menjadi yang terbaik dikalangan tābi'in.

Kalau yang terbaik di kalangan tābi'in adalah orang yang serba kurang, maka yang terbaik dikalangan shahābat adalah orang yang serba lebih, beliau adalah Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu.

Para ulamā sepakat bahwasanya yang terbaik dikalangan generasi pertama umat Islām yaitu para shahābat adalah Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu.

Beliau adalah seorang yang tampan, seorang yang kaya raya, seorang pejabat, seorang bangsawan dan berdarah biru dan beliau juga seorang tokoh ulamā dikalangan shahābat.

Namun bukan itu yang telah membuat Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu menjadi yang terbaik dikalangan shahābat.

Yang menjadikan beliau terbaik dikalangan shahābat adalah taqwa beliau, hati beliau yang bersih, iman beliau yang kuat dan amalan beliau yang banyak yang tercermin dalam sebuah hadīts riwayat Muslim.

Bahwasanya suatu hari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengumpulkan para shahābat beliau dan bertanya, "Siapa yang hari ini berpuasa?"

Maka Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu mengangkat tangan dan mengatakan, "Saya, wahai Rasūlullāh.'

"Siapa yang hari ini sudah mengantar jenazah?"

Maka Abū Bakr Ash Shiddīq Radhiyallāhu 'anhu lagi yang menjawab, "Saya, wahai Rasūlullāh."

"Siapa yang hari ini sudah memberi makan untuk orang miskin?"

Sekali lagi, Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu yang mengangkat tangan, "Saya, wahai Rasūlullāh."

"Siapa yang hari ini sudah menjengguk orang sakit?"

Dan lagi-lagi Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu mengatakan, "Saya, wahai Rasūlullāh."

Kemudian Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan, "Tidaklah keempat amalan ini terkumpul pada seorang mu'min (maksudnya dalam 1 hari) kecuali dia akan masuk surga."

Ikhwan dan akhwat yang budiman,

Setiap dari kita memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kalau kita memiliki kelebihan ucapkanlah syukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan jadilah seperti Abū Bakr Ash Shiddīq radhiyallāhu 'anhu yang diberikan banyak kelebihan namun dia tidak terperdaya oleh banyak kelebihannya.

Karena beliau sadar bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak pernah melihat beliau dari kelebihan-kelebihan dunia itu. Maka beliau beramal, membersihkan hati, membersihkan diri dan bertaqwa sehingga akhirnya beliau bisa meraih kemulian disisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Sebaliknya, kalau kita mendapatkan kekurangan-kekurangan dalam diri kita hendaklah kita tetap bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, jangan minder!

Karena kesempatan tidak tertutup sama sekali. Jadilah seperti Uways bin Amir Al Qarani yang serba kurang tapi dengan amal dan taqwanya akhirnya bisa menjadi yang terbaik dari kalangan tābi'in.

Demikian semoga yang sedikit ini bermanfaat.

و الله تعالى أعلم
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وسلم
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Riya' bagian 2

🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at, 13 Muharram 1438 H / 14 Oktober 2016 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
🔊 Hadits 05| Riya' (Bagian 2)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS02-FA-Bab04-H05-2
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

وَعَنْ مَحْمُوْدِ بْنِ لَبِيْدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : "إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ: اَلرِّيَاءُ." أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ بِسَنَدٍ حَسَنٍ.

Dari Mahmud bin Labid Radhiyallāhu 'anhu ia berkata: Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya hal yang paling aku takuti menimpa kalian ialah syirik kecil, yaitu riya'.”

(HR Ahmad dengan sanad yang hasan).
〰〰〰〰〰〰〰

R I Y A '  (BAGIAN 2)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla,

Kita melanjutkan pembahasan kita tentang Akhlaq yang buruk yang diantaranya adalah riya'.

Telah kita sebutkan bahwasanya riya' adalah dosa besar.

Diantara dalil yang menunjukkan bahwa riya' adalah dosa besar adalah banyak namun diantaranya adalah yang diriwayatkan oleh Imām Muslim dari Abū Hurairah radhiyallāhu 'anhu.

Beliau berkata:

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَي اسْتُشْهِدَ

Aku mendengar Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

Orang-orang yang pertama kali akan disidang oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla (diberi hukuman kepadanya) adalah :

▪ YANG PERTAMA | SEORANG YANG MATI SYAHID

فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا

"Orang yang mati syahīd inipun dihadirkan di hadapan Allāh kemudian Allāh mengingatkan dia tentang nikmat-nikmat yang pernah Allāh berikan kepada dia. Maka diapun ingat akan nikmat-nikmat tersebut."

↝Seperti misalnya: hebat dalam bertempur, tubuh yang kuat, keberanian, pandai (lihai) dalam menggunakan senjata, ini semua nikmat bagi seorang mujahid.

Kemudian Allāh bertanya:

فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟

(Karena nikmat-nikmat itu perlu disyukuri/wajib di syukuri dengan digunakan untuk perkara-perkara yang bermanfaat. Misalnya, keberanian, kejantanan, kehebatan, kekuatan  tubuh ini harus di salurkan kepada perkara yang baik untuk bersyukur kepada Allāh).

Maka Allāh bertanya tentang nikmat tersebut, "فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا ?"  / "Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat yang aku berikan kepadamu ?"

Ia menjawab:

قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ

"(Yā Allāh) aku berperang karena Engkau sampai aku mati syahīd."

Allāh berkata:

كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ

"Engkau dusta, engkau berperang supaya dikatakan sebagai pemberani, dan telah dikatakan itu."

Perhatikan disini!
Orang ini berperang untuk dikatakan bahwa dia adalah pemberani (pahlawan) dan tujuan dia terpenuhi, Allāh kabulkan.

Oleh karenanya, tatkala seseorang itu tersohor bukan berarti amal dia diridhai oleh Allāh, bisa jadi itu adalah istidraj.

Lihatlah orang ini, dia berperang supaya dikatakan pemberani dan Allāh kabulkan.

Orang yang melakukan amal shalih karena riya', tujuannya ingin  tersohor terkadang dikabulkan terkadang tidak dikabulkan.

Allāh telah mengatakan dalam Al Qurān :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ

"Barangsiapa yang melakukan amal shalih karena mengharapkan dunia dan perhiasannya maka Kami akan berikan tujuan tersebut, dan mereka tidak akan dikurangi."

(QS Hud :15)

Jadi Allāh mengatakan, barangsiapa beramal shalih mengharapkan dunia dan perhiasannya, maka kami akan penuhi ganjarannya di dunia apa yang mereka inginkan tersebut, dan mereka tidak ada dirugikan.

Lihatlah orang ini tatkala dia berjihad niatnya agar dikatakan sebagai pemberani dikabulkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ini semua menunjukkan bahwasanya riya' adalah perkara yang berbahaya, ketenaran adalah perkara yang berbahaya.

Bayangkan, orang ini rela mengorbankan perkara yang paling mahal dalam dirinya yaitu nyawanya, sekedar untuk diakui, dikatakan sebagai pahlawan.

Ini juga menunjukkan bahwa tatkala orang ingin dipuji ini adalah syahwat, sebagaimana yang Ibnu Taimiyyah katakan:

"Ketenaran itu adalah syahwat (syahwat khafiyah) yaitu syahwat yang tersembunyi."

Sebagaimana seseorang mempunyai syahwat untuk makan, seorang lelaki punya syahwat terhadap wanita, demikian juga dengan riya' (ingin terkenal) juga termasuk syahwat.

Sehingga orang rela untuk mengorbankan hartanya bahkan nyawanya untuk memenuhi syahwatnya supaya dikenal sebagai pahlawan.

Padahal diapun akan terkenal setelah dia meninggal mungkin sebelum meninggal dia dikenal juga.

ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ,

"Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla memerintahkan malaikat, maka malaikat pun menyeret di atas wajahnya (dihinakan) kemudian dilemparkan ke dalam neraka Jahannam."

▪YANG KEDUA | SESEORANG YANG BELAJAR ILMU AGAMA

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ

"Seseorang yang belajar ilmu (maksudnya ilmu agama) kemudian dia mengajarkan ilmu tersebut dan dia (juga) membaca Al Qurān."

↝Yang kedua ini adalah seorang ustadz, orang yang berilmu, ini adalah amalan-amalan yang rawan untuk riya'

Seorang ustadz juga sangat mudah untuk terkena riya', apalagi jika pandai membaca Al Qurān, cerdas, pandai berbicara (berorasi), suaranya bagus dan mungkin hapalannya kuat.

فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا,

"Maka Allāh hadirkan dia kemudian Allāh ingatkan dengan nikmat-nikmat yang Allāh berikan kepadanya tersebut dan dia pun ingat."

Allāh bertanya:

فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟

"Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut."

قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ,

Ia mengatakan:

"Aku belajar ilmu, akupun mangajarkannya, aku membaca Al Qurān, semua aku lakukan karena Engkau, Yā  Allāh."

Dia akui semua nikmat tersebut dan mengatakan, "Saya ceramah, saya mengajarkan ilmu, semua kerena Engkau, Yā Allāh.

قَال :َكَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ:عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ،
Maka Allāh berkata:

"Engkau dusta, engkau belajar ilmu supaya engkau dikenal sebagai orang alim dan engkau belajar Al Qurān supaya dikenal sebagai seorang qāri dan telah dikatakan itu."

Ini berbahaya, ternyata seorang ustadz juga bisa masuk neraka Jahannam, bahkan yang pertama kali masuk.

Kenapa?

Karena niatnya tidak beres, dan seorang penuntut ilmu rawan atau mudah untuk sombong dan angkuh, mudah untuk riya', mudah untuk bangga akan dirinya, untuk dikenal, maka ini menyebabkan dia masuk kedalam neraka.

ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ,

"Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla memerintahkan malaikat, maka malaikat pun menyeret di atas wajahnya (dihinakan) kemudian dilemparkan ke dalam neraka Jahannam."

▪YANG KETIGA | SEORANG YANG ALLĀH BERI KELAPANGAN HARTA

وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا,

"Seorang yang Allāh beri kelapangan harta. Allāh berikan kepada dia segala jenis harta mungkin rumah mewah, mobil mewah, kebun luas, sawah ladang, istana dan emas perak. Lalu orang ini dihadirkan lantas Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengingatkan tentang nikmat-nikmat tersebut, kemudian dia pun ingat."

Pertanyaan berikutnya

فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟

"Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut."

Kita ingat ! Seluruh kenikmatan yang kita miliki akan ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

"Sungguh kalian akan ditanya tentang nikmat yang kalian dapatkan"

(QS At Takasur : 08)

Dia menjawab:

قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ

"Yā Allah, tidak ada satu jalan kebaikan pun yang Engkau suka agar aku berinfaq di dalamnya kecuali aku infaq-kan kerena Engkau".

Artinya jika ada orang yang membangun mesjid dia bantu, sedekah kepada anak yatim dan fakir miskin, ada orang bikin pondok dia bantu seluruhnya, dan dia katakan semua ini karena Allāh.

قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ,

"Engkau dusta, engkau melakukan semua ini supaya engkau dikatakan sebagai seorang yang dermawan, dan telah dikatakan itu (engkau sudah dikenal sebagai seorang yang dermawan)."

ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِِ

"Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla memerintahkan malaikat, maka malaikat pun menyeret di atas wajahnya (dihinakan) dan dilemparkam ke neraka Jahannam."

(Hadīts riwayat Muslim no 1905)

Ikhwān dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla,

Hadīts ini sangat mengerikan, yaitu memberikan peringatan kepada orang-orang  yang riya', orang yang riya' adalah orang yang akan  sengsara di akhirat kelak.

Dan ini menunjukkan bahwa riya' merupakan dosa besar karena bisa menyebabkan seseorang diseret ke dalam neraka Jahannam.

Demikian Ikhwān dan akhwat, kita lanjutkan pada pembahasan berikutnya.

والله أعلمُ بالصواب
_____________________________

Riya' bagian 2

🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at, 13 Muharram 1438 H / 14 Oktober 2016 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
🔊 Hadits 05| Riya' (Bagian 2)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS02-FA-Bab04-H05-2
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

وَعَنْ مَحْمُوْدِ بْنِ لَبِيْدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : "إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ: اَلرِّيَاءُ." أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ بِسَنَدٍ حَسَنٍ.

Dari Mahmud bin Labid Radhiyallāhu 'anhu ia berkata: Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya hal yang paling aku takuti menimpa kalian ialah syirik kecil, yaitu riya'.”

(HR Ahmad dengan sanad yang hasan).
〰〰〰〰〰〰〰

R I Y A '  (BAGIAN 2)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla,

Kita melanjutkan pembahasan kita tentang Akhlaq yang buruk yang diantaranya adalah riya'.

Telah kita sebutkan bahwasanya riya' adalah dosa besar.

Diantara dalil yang menunjukkan bahwa riya' adalah dosa besar adalah banyak namun diantaranya adalah yang diriwayatkan oleh Imām Muslim dari Abū Hurairah radhiyallāhu 'anhu.

Beliau berkata:

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَي اسْتُشْهِدَ

Aku mendengar Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

Orang-orang yang pertama kali akan disidang oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla (diberi hukuman kepadanya) adalah :

▪ YANG PERTAMA | SEORANG YANG MATI SYAHID

فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا

"Orang yang mati syahīd inipun dihadirkan di hadapan Allāh kemudian Allāh mengingatkan dia tentang nikmat-nikmat yang pernah Allāh berikan kepada dia. Maka diapun ingat akan nikmat-nikmat tersebut."

↝Seperti misalnya: hebat dalam bertempur, tubuh yang kuat, keberanian, pandai (lihai) dalam menggunakan senjata, ini semua nikmat bagi seorang mujahid.

Kemudian Allāh bertanya:

فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟

(Karena nikmat-nikmat itu perlu disyukuri/wajib di syukuri dengan digunakan untuk perkara-perkara yang bermanfaat. Misalnya, keberanian, kejantanan, kehebatan, kekuatan  tubuh ini harus di salurkan kepada perkara yang baik untuk bersyukur kepada Allāh).

Maka Allāh bertanya tentang nikmat tersebut, "فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا ?"  / "Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat yang aku berikan kepadamu ?"

Ia menjawab:

قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ

"(Yā Allāh) aku berperang karena Engkau sampai aku mati syahīd."

Allāh berkata:

كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ

"Engkau dusta, engkau berperang supaya dikatakan sebagai pemberani, dan telah dikatakan itu."

Perhatikan disini!
Orang ini berperang untuk dikatakan bahwa dia adalah pemberani (pahlawan) dan tujuan dia terpenuhi, Allāh kabulkan.

Oleh karenanya, tatkala seseorang itu tersohor bukan berarti amal dia diridhai oleh Allāh, bisa jadi itu adalah istidraj.

Lihatlah orang ini, dia berperang supaya dikatakan pemberani dan Allāh kabulkan.

Orang yang melakukan amal shalih karena riya', tujuannya ingin  tersohor terkadang dikabulkan terkadang tidak dikabulkan.

Allāh telah mengatakan dalam Al Qurān :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ

"Barangsiapa yang melakukan amal shalih karena mengharapkan dunia dan perhiasannya maka Kami akan berikan tujuan tersebut, dan mereka tidak akan dikurangi."

(QS Hud :15)

Jadi Allāh mengatakan, barangsiapa beramal shalih mengharapkan dunia dan perhiasannya, maka kami akan penuhi ganjarannya di dunia apa yang mereka inginkan tersebut, dan mereka tidak ada dirugikan.

Lihatlah orang ini tatkala dia berjihad niatnya agar dikatakan sebagai pemberani dikabulkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ini semua menunjukkan bahwasanya riya' adalah perkara yang berbahaya, ketenaran adalah perkara yang berbahaya.

Bayangkan, orang ini rela mengorbankan perkara yang paling mahal dalam dirinya yaitu nyawanya, sekedar untuk diakui, dikatakan sebagai pahlawan.

Ini juga menunjukkan bahwa tatkala orang ingin dipuji ini adalah syahwat, sebagaimana yang Ibnu Taimiyyah katakan:

"Ketenaran itu adalah syahwat (syahwat khafiyah) yaitu syahwat yang tersembunyi."

Sebagaimana seseorang mempunyai syahwat untuk makan, seorang lelaki punya syahwat terhadap wanita, demikian juga dengan riya' (ingin terkenal) juga termasuk syahwat.

Sehingga orang rela untuk mengorbankan hartanya bahkan nyawanya untuk memenuhi syahwatnya supaya dikenal sebagai pahlawan.

Padahal diapun akan terkenal setelah dia meninggal mungkin sebelum meninggal dia dikenal juga.

ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ,

"Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla memerintahkan malaikat, maka malaikat pun menyeret di atas wajahnya (dihinakan) kemudian dilemparkan ke dalam neraka Jahannam."

▪YANG KEDUA | SESEORANG YANG BELAJAR ILMU AGAMA

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ

"Seseorang yang belajar ilmu (maksudnya ilmu agama) kemudian dia mengajarkan ilmu tersebut dan dia (juga) membaca Al Qurān."

↝Yang kedua ini adalah seorang ustadz, orang yang berilmu, ini adalah amalan-amalan yang rawan untuk riya'

Seorang ustadz juga sangat mudah untuk terkena riya', apalagi jika pandai membaca Al Qurān, cerdas, pandai berbicara (berorasi), suaranya bagus dan mungkin hapalannya kuat.

فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا,

"Maka Allāh hadirkan dia kemudian Allāh ingatkan dengan nikmat-nikmat yang Allāh berikan kepadanya tersebut dan dia pun ingat."

Allāh bertanya:

فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟

"Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut."

قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ,

Ia mengatakan:

"Aku belajar ilmu, akupun mangajarkannya, aku membaca Al Qurān, semua aku lakukan karena Engkau, Yā  Allāh."

Dia akui semua nikmat tersebut dan mengatakan, "Saya ceramah, saya mengajarkan ilmu, semua kerena Engkau, Yā Allāh.

قَال :َكَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ:عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ،
Maka Allāh berkata:

"Engkau dusta, engkau belajar ilmu supaya engkau dikenal sebagai orang alim dan engkau belajar Al Qurān supaya dikenal sebagai seorang qāri dan telah dikatakan itu."

Ini berbahaya, ternyata seorang ustadz juga bisa masuk neraka Jahannam, bahkan yang pertama kali masuk.

Kenapa?

Karena niatnya tidak beres, dan seorang penuntut ilmu rawan atau mudah untuk sombong dan angkuh, mudah untuk riya', mudah untuk bangga akan dirinya, untuk dikenal, maka ini menyebabkan dia masuk kedalam neraka.

ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ,

"Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla memerintahkan malaikat, maka malaikat pun menyeret di atas wajahnya (dihinakan) kemudian dilemparkan ke dalam neraka Jahannam."

▪YANG KETIGA | SEORANG YANG ALLĀH BERI KELAPANGAN HARTA

وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا,

"Seorang yang Allāh beri kelapangan harta. Allāh berikan kepada dia segala jenis harta mungkin rumah mewah, mobil mewah, kebun luas, sawah ladang, istana dan emas perak. Lalu orang ini dihadirkan lantas Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengingatkan tentang nikmat-nikmat tersebut, kemudian dia pun ingat."

Pertanyaan berikutnya

فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟

"Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut."

Kita ingat ! Seluruh kenikmatan yang kita miliki akan ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

"Sungguh kalian akan ditanya tentang nikmat yang kalian dapatkan"

(QS At Takasur : 08)

Dia menjawab:

قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ

"Yā Allah, tidak ada satu jalan kebaikan pun yang Engkau suka agar aku berinfaq di dalamnya kecuali aku infaq-kan kerena Engkau".

Artinya jika ada orang yang membangun mesjid dia bantu, sedekah kepada anak yatim dan fakir miskin, ada orang bikin pondok dia bantu seluruhnya, dan dia katakan semua ini karena Allāh.

قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ,

"Engkau dusta, engkau melakukan semua ini supaya engkau dikatakan sebagai seorang yang dermawan, dan telah dikatakan itu (engkau sudah dikenal sebagai seorang yang dermawan)."

ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِِ

"Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla memerintahkan malaikat, maka malaikat pun menyeret di atas wajahnya (dihinakan) dan dilemparkam ke neraka Jahannam."

(Hadīts riwayat Muslim no 1905)

Ikhwān dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla,

Hadīts ini sangat mengerikan, yaitu memberikan peringatan kepada orang-orang  yang riya', orang yang riya' adalah orang yang akan  sengsara di akhirat kelak.

Dan ini menunjukkan bahwa riya' merupakan dosa besar karena bisa menyebabkan seseorang diseret ke dalam neraka Jahannam.

Demikian Ikhwān dan akhwat, kita lanjutkan pada pembahasan berikutnya.

والله أعلمُ بالصواب
_____________________________