Translate

Rabu, 06 Mei 2015

Agama Yang Benar dan di Ridhoi Allah

✅Agama yang Benar dan Diridhoi Sang Pencipta Hanyalah Islam🌱

بسم الله الرحمن الرحيم

➡Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الإِسْلاَم

“Sesungguhnya agama yang diridhoi di sisi Allah hanyalah Islam.” [Ali Imron: 19]

📋Beberapa Pelajaran:

1⃣ Ayat yang mulia ini menegaskan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan diridhoi oleh Sang Pencipta; Allah tabaraka wa ta'ala, karena Dia-lah yang telah menetapkan hal itu di dalam kitab-Nya yang mulia Al-Qur'anul Karim, maka tidak ada jalan lain untuk beribadah kepada-Nya kecuali harus masuk Islam, yaitu agama yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam, satu-satunya agama yang masih mengikuti ajaran utama para nabi dan rasul 'alaihimussalaam terdahulu, yaitu tauhid. Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

وقوله: { إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلام } إخبار من الله تعالى بأنه لا دين عنده يقبله من أحد سوى الإسلام، وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين، حتى ختموا بمحمد صلى الله عليه وسلم، الذي سد جميع الطرق إليه إلا من جهة محمد صلى الله عليه وسلم، فمن لقي الله بعد بعثته محمدًا صلى الله عليه وسلم بدِين على غير شريعته، فليس بمتقبل. كما قال تعالى: وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan firman Allah ta’ala “Sesungguhnya agama yang diridhoi di sisi Allah hanya Islam” adalah pengabaran dari Allah ta’ala bahwa tidak ada agama yang diterima di sisi-Nya dari siapa pun selain Islam, yaitu ajaran yang mengikuti agama para Rasul yang Allah ta’ala utus pada setiap masa, sampai diakhiri dengan Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, dimana Allah ta’ala telah menutup semua jalan untuk sampai kepada-Nya kecuali melalui jalan Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, barangsiapa yang berjumpa dengan Allah ta’ala setelah pengutusan Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dalam keadaan tidak mengikuti agama beliau, maka tidak akan diterima agamanya, sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima dari padanya, dan ia di akhirat kelak termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imron: 85).” [Tafsir Ibnu Katsir, 2/52]

2⃣ Dalam ayat yang lain, Allah ta'ala telah memastikan bahwa non muslim, yaitu Yahudi dan Nasrani serta seluruh kaum musyrikin akan dimasukkan ke neraka dan kekal di dalamnya untuk selama-lamanya karena mereka telah kafir kepada Allah ta'ala dengan tidak mau masuk Islam dan menyekutukan-Nya dengan menyembah selain-Nya, padahal Dia-lah yang telah menciptakan mereka dan selalu memberikan rezeki serta mencurahkan kenikmatan kepada mereka.

➡Allah ta'ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq.” [Al-Bayyinah: 6]

➡Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menegaskan,

وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَد مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi (Allah) yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah ada seorang pun dari umat ini yang pernah mendengarkan tentang aku, apakah ia seorang Yahudi atau Nasrani, kemudian ia mati sebelum beriman dengan ajaran yang aku bawa, kecuali ia termasuk penghuni neraka.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu]

3⃣ Ayat yang mulia ini juga menegaskan bahwa;

• Keyakinan semua agama sama adalah kekafiran, dan bagaimana mungkin disamakan antara agama yang mengajarkan tauhid; memurnikan ibadah hanya kepada Allah ta'ala dan agama-agama yang mengajarkan syirik; penyembahan kepada sesembahan-sesembahan yang lemah, yang tidak menciptakan mereka, tidak pula menganugerahkan rezeki dan kenikmatan kepada mereka sedikit pun?!

• Demikian pula keyakinan bahwa ada agama selain Islam yang benar adalah kekafiran, barangsiapa yang memiliki keyakinan tersebut maka ia kafir, murtad, keluar dari Islam, menurut kesepakatan ulama, tidak ada perbedaan pendapat, karena orang yang meyakininya berarti mendustakan Al-Qur'an dan As-Sunnah yang telah mengkafirkan seluruh non muslim dalam banyak sekali ayat dan hadits. Asy-Syaikh Muhammad bin Sulaiman rahimahullah berkata,

من لم يكفر المشركين، أو شك في كفرهم، أو صحح مذهبهم، كفر.

"Barangsiapa tidak mengkafirkan kaum musyrikin, atau ragu dengan kekafiran mereka, atau membenarkan pendapat (kekafiran) mereka, maka ia kafir." [Risalah Nawaqidhul Islam, ke-3]

4⃣ Oleh karena Allah ta'ala telah menetapkan agama yang mulia ini sebagai agama yang Dia ridhoi dan sebagai penutup seluruh agama yang pernah Dia turunkan, maka Allah ta'ala menyempurnakan agama ini, sehingga tidak mengandung kekurangan sedikit pun, serta sangat cocok dan sesuai bagi seluruh umat manusia dari seluruh bangsa mana pun dan di zaman apa pun sampai hari kiamat, karena apa pun yang dibutuhkan seorang hamba untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, telah ada di dalam agama ini. Allah ta'ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maidah: 3]

• Dan karena agama ini telah sempurna, maka tidak perlu lagi menambah-nambah dalam agama. Sahabat yang mulia Abu Dzar radhiyallahu’anhu berkata,

تَرَكْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ، إِلا وَهُوَ يُذَكِّرُنَا مِنْهُ عِلْمًا قَالَ: فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ، ويُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ، إِلا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam meninggalkan kami, dalam keadaan tidaklah seekor burung kecil mengepakkan dua sayapnya di udara, kecuali beliau telah menyebutkan kepada kami ilmu tentang hal itu.” Beliau -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda, “Tidak tersisa sedikit pun yang bisa mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah dijelaskan kepada kalian.” [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 1803]

• Sebab menambah-nambah dalam agama sama saja dengan menuduh agama ini belum sempurna. Al-Imam Malik rahimahullah berkata,

مَنِ ابْتَدَعَ فِي الْإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً، زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ: {الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ} [المائدة: 3]، فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا، فَلَا يَكُونُ الْيَوْمَ دِينًا.

“Barangsiapa berbuat bid’ah dalam Islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah, maka ia telah menuduh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah mengkhianati tugas kerasulan, karena Allah ta’ala berfirman, “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu”, sehingga apa yang hari itu bukan ajaran agama, maka pada hari ini juga bukan ajaran agama.” [Al-I’tishom lisy Syaathibi rahimahullah, hal. 64-65]

• Padahal masih terlalu banyak petunjuk-petunjuk Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam yang belum kita pelajari, yang sudah dipelajari pun masih banyak yang belum diamalkan, tapi mengapa malah mengamalkan yang tidak beliau contohkan...?!

➡Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam telah mengingatkan,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada padanya maka ia tertolak.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

➡Dalam riwayat Muslim,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهْوَ رَد

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

➡Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Ammaa ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (shallallahu’alaihi wa sallam) dan seburuk-buruk urusan adalah perkara baru (dalam agama) dan semua perkara baru (dalam agama) itu sesat.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

➡Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kalian agar senantiasa taqwa kepada Allah serta mendengar dan taat kepada pemimpin (negara) meskipun pemimpin tersebut seorang budak dari Habasyah, karena sesungguhnya siapa pun diantara kalian yang masih hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak (dalam agama), maka wajib bagi kalian (menghindari perselisihan tersebut) dengan berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Al-Khulafa’ur Rasyidin yang telah mendapat petunjuk. Peganglah sunnah itu dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara baru (bid’ah dalam agama) karena setiap bid’ah itu sesat.” [HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu]

➡Yang sepatutnya kita lakukan adalah masuk ke dalam Islam secara menyeluruh, mengamalkan seluruh ajarannya, tanpa memilih-milih yang sesuai dengan hawa nafsu saja; mengamalkan sebagian dan meninggalkan sebagian, atau malah mengamalkan yang tidak diajarkan lalu dianggap sebagai ajaran agama. Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya.” [Al-Baqoroh: 208]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

يقول تعالى آمرًا عباده المؤمنين به المصدّقين برسوله: أنْ يأخذوا بجميع عُرَى الإسلام وشرائعه، والعمل بجميع أوامره، وترك جميع زواجره ما استطاعوا من ذلك

“Allah ta’ala berfirman, memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya dan membenarkan rasul-rasul-Nya untuk memegang semua ikatan Islam dan syari’at-syari’at-Nya, mengamalkan semua perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya semampu mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir, 1/555]

5⃣Meluruskan kesalahpahaman terhadap ayat "Tidak ada paksaan dalam agama" bahwa ayat tersebut bukanlah pembenaran kepada agama selain Islam dan bukan pula larangan berjihad dan menyebarkan dakwah Islam, serta bukan pula sebagai pembebasan bagi manusia untuk memilih agama yang ia sukai. Asy-Syaikh Prof. DR. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata,

“Tentang firman Allah ta’ala “Tidak ada paksaan dalam agama”, bukanlah bermakna bahwa orang-orang kafir dibiarkan tanpa diperangi dan tanpa diajak masuk Islam, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang bermaksud jahat terhadap Islam dan orang-orang kafir serta kaum muslimin yang bodoh. Alasan mereka adalah kebebasan beragama dan kebebasan aqidah, ini adalah kedustaan atas Allah ‘azza wa jalla, bukan itu maksud Allah jalla wa ‘ala. Karena Allah jalla wa ‘ala menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya, sebagaimana firman-Nya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku saja, Aku tidak menginginkan rezeki dari mereka, dan tidak pula agar mereka memberi makan.” [Adz-Dzariyat: 56-57]

Andaikan manusia itu boleh dibiarkan saja menjadi orang-orang kafir yang beribadah semau mereka, maka firman Allah ta’ala “Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku saja”, kalau begitu tidak lagi bermakna, demikian pula jihad di jalan Allah tidak ada manfaatnya, dan tidak ada gunanya berdakwah, sebab untuk apalagi engkau mendakwahi manusia padahal mereka bebas menentukan aqidah yang akan mereka peluk dan ibadah yang akan mereka lakukan?! Kalau begitu biarkan saja manusia –menurut ucapan batil ini-, tidak perlu didakwahi, biarkan mereka beribadah sesuai pilihan mereka.” [Syarhu Ma’na Thagut, dicetak bersama Silsilah Syarhir Rosaail, hal. 283-284]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
,mks

Minggu, 03 Mei 2015

Kelembutan

Bismillah...

Telah berkata, Syaikh Dr Muhammad Musa alu Nashr Hafidzahullah:

Terlihat sikap sebagian para pemuda kita dan anak-anak kita Salafiyyiin; tajam dalam tutur kata,  keras dalam membantah,  serta kasar dalam bergaul dengan sesama ikhwan mereka atau dengan selain mereka.

Sikap seperti ini menyelisihi petunjukny Al-Quran dan petunjuk Rosululloh عليه السلام , serta menyelisihi manhaj dakwah kita & para ulama kita,  serta manhaj para masyaikh kita.

Ar-Rifqu (kelembutan & kebijaksanaan) merupakan fondasi suksesnya seorang yang berdakwah kepada الله, sebagaimana firman-Nya:

(ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ... )
"Serulah (manusia) kepada jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang (lebih) baik..." (QS. 16:125)

yaitu tutur kata yang baik.

Juga Firman الله تعالى kepada Nabi-Nya:

وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ
"...Sekiranya kamu (Muhammad) bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu..." (QS. 3:159)

Dan Rasulullah عليه السلام bersabda:

مَا كَانَ الرِّفْقُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

"Tidaklah kelembutan ada pada suatu (urusan) pun kecuali akan membaguskannya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu (urusan)pun kecuali akan memperburuknya"
(Dishahihkan oleh Al-Albani)

(Maka kunasehatkan pada kalian):

Bersikap lembutlah. .. bersikap lembutlah wahai para penuntut ilmu. .. dan bersikap luwes lah, bersikap luwes lah wahai anak-anakku, karena sesungguhnya الله تعالى  memberi kepada orang yang bersikap lembut apa-apa yang tidak diberikan kepada orang yang bersikap kasar.

Dan dahulu saya sering mendengar beliau Syekh (guru) kami berkata:
"Kebenaran itu pahit, maka jangan kita tambah lagi kepahitannya dengan uslub kita (yg buruk).

Semoga الله تعالى menepatkan kita pada apa-apa yang dicintai & diridhoi-Nya. Mks

Yang Merindukan dan Yang DiRindukan

14 ABAD YANG LALU DIA PERNAH MERINDUKANMU

🎁Dialah Rasulullah…

📅 Tepat sembilan hari menjelang wafatnya turunlah firman Allah yang berbunyi:

📢  وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ

🔊“ Dan peliharalah diri kalian dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak didzalimi.” (Al Baqarah : 281)

Semenjak itu raut kesedihan mulai tampak di wajah beliau yang suci. “Aku ingin mengunjungi syuhada Uhud ujar beliau.” Beliaupun pergi menuju makam syuhada Uhud, sesampainya disana beliau mendekati makam para syuhada dan berkata, “Assalamu’alaikum wahai syuhada Uhud, kalian telah mendahului kami. Insya Allah kamipun akan menyusul kalian.”

Ditengah perjalanan pulang, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menangis. Para sahabat yang mendapinginya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku rindu kepada saudara-saudaraku.” Mereka berkata, “Bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bukan, kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku adalah mereka yang datang sesudahku, mereka beriman kepadaku padahal mereka belum pernah melihatku.”
(HR. Ahmad)

Alangkah tulus ungkapan itu..
Namun tersisa beragam tanya:
Kitakah yang dirindukan itu…?
Bila iya, Sudahkah kita merindukannya…?
Sudahkah kita beriman sehingga pantas dirindu…?
Sudahkan kita mengamalkan sunnahnya sebagai bukti cinta…?
Pantaskah diri yang lalai ini dirindukan Rasul suci yang mulia…?

Duhai.. alangkah malangnya bila yang dirindukan itu terusir dari telaga haudhnya.
Alangkah malangnya bila nanti terdengar darinya ucapan, “menjauhlah dari telagaku…”
Kau tau kenapa…? Karena mereka telah merubah-rubah Agama yang dibawanya.

Wahai insan yang dirindu….
Ikutilah jalan hidup manusia agung yang dulu pernah merindukanmu..
Jauhi segala macam bid’ah dalam agama, agar kau tak terusir dari telaganya.
Buktikan cintamu dengan ittiba’ agar cintamu tak bertepuk sebelah tangan.
Ingat selalu firman Allah azza wa jalla:
Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)
Ingat kawan….
Ditepi telaga haudh dia menanti kita..
“Aku akan mendahului kalian di telaga. Aku sebagai saksi atas kalian” dan sesungguhnya—demi Allah— saat ini aku sedang memandang telagaku itu” (HR. al-Bukhari dan Muslim),mks

Sendi Sendi Keimanan

Sendi Sendi Ke Imanan
Setiap Muslim tentu saja boleh mengaku bahwa dirinya adalah seorang yang beriman, akan tetapi  perlu disadari bahwa penilaian hakiki atas kwalitas keimanannya adalah hanya pada sisi Allah subhnanahu wa ta'alaa.

Jika kita mempelajari intisari dari tuntuntan Dienul Islam, maka kita akan menemukan hal-hal pokok yang bisa dikatakan sebagai Sendi-sendi Keimanan, yang darinya insyaAllah bisa menuntun seorang Muslim menuju  kesempurnan pengakuan atas keimanannya, waallahu a'laam.
🚧SENDI-SENDI KEIMANAN🚧

Berikut saya sajikan sebuah hasil telaah berupa sendi-sendi yang bisa menjadi acuan seorang Muslim dalam menapaki kesempurnaan iman :

🍃Sendi Keimanan Pertama ;

1⃣. MANTAB DALAM  BERTAUHID.

Sendi Keimanan yang utama yang mutlak harus dimiliki oleh seorang Muslim adalah terkait dengan bersih, lurus dan murninya Aqidahnya.
Adapun Aqidah yang bagaimana yang menjadi syarat mutlak bagi seorang Muslim yang beriman ?  Yakni Aqidah yang Tauhidillah.
Artinya, meng-Esa-kan Allah.
Dan tidak mencampur Aqidah tersebut dengan bentuk2 kesyirikan sekecil apapun.

Hal diatas harus selalu menjadi perhatian utama bagi seorang Muslim. Karena jika sampai terjadi cacat setitikpun dalam hal Aqidahnya, maka bisa menggugurkan keimanannya, hingga dia bertaubat dan membersihkan Aqidahnya dan kemudian kembali pada ajaran Tauhid, yang hanya mengakui (bersaksi) bahwa Allah-lah sebagai satu-satunya sesembahan yang berhak untuk diibadahi. Dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun.

🍃 Sendi Keimanan Kedua ;

2⃣. MEMPERHATIKAN WAKTU-WAKTU SHOLAT.

Sesungguhnya Sholat adalah salah 1 diantara Syariat Islam. Namun Sholat ini menjadi spesial kedudukannya karena setelah seseorang menyatakan dirinya islam dengan melafadzkan Syahadatain, maka syariat yang harus dia laksanakan sebagai pembuktian keimanannya itu adalah ihlasnya dia dalam melaksanakan Sholat.

Memperhatikan waktu-waktu Sholat adalah merupakan sendi keimanan yang sangat penting setelah seorang Muslim memiliki aqidah yang lurus.
Penghayatannya dalam setiap pelaksanaan Sholatnya harus bisa menghadirkan perasaan dimana dirinya benar2 sedang melakukan  penghambaan yang sempurna kepada Allahu ta'alaa.

Tumpuan perhatian seseorang Muslim kepada urusan penegakkan syariat Shalat ini  menjadi tolok ukur kwalitas keimanannya.
Karena itu tak heran jika salah satu  amal ibadah yang sangat dicintai oleh Allah adalah menunggu masuknya waktu Sholat, dan bersegera mengerjakannya dengan perasaan ihlas, gembira.

Sedangkan seseorang yang tidak memiliki perhatian kepada waktu-waktu Sholatnya dan bahkan ada pula yang gemar menunda-nunda maka itu terindikasi sedang kurang baik kwalitas keimanannya, karena dalam kondisi seperti ini sangat mungkin jika dia akan menunda pelaksanaan hak-hak Allah yang lainnya.

🍃 Sendi Keimanan Ketiga ;

3⃣. MEMPERHATIKAN PELAKSANAAN IBADAH-IBADAH WAJIB ATAS DIRINYA.

Yang dimaksud dengan ibadah-ibadah wajib disini bukan hanya Sholat, Shaum, Zakat saja akan tetapi meliputi semua ibadah yang telah diwajibkan oleh Allah subhanahu wa ta'alaa.
Karena itu hendaknya seseorang tidak disibukkan dengan mengerjakan ibadah-ibadah yang Sunnah sementara meninggalkan yang Wajib.

Misal :
🔹 Rajin mengerjakan Qiamul Lail tetapi sering melewatkan sholat Shubuhnya.
🔹 Rajin Dzikir tetapi tidak mau mencari ilmu dan lain sebagainya.

🍃 Sendi Keimanan Keempat ;

4⃣. JAUH DARI SIKAP DAN RASA PUTUS ASA DALAM KEHIDUPAN.

Dalam memahami sendi keimanan ini, seorang Muslim sebaiknya tidak menganggap kecil atas perbuatan-perbuatan baik (amal-amal sholih) yang telah dia dikerjakan setelah dirinya melihat apa yang dikerjakan orang lain.
Kecuali jika karenanya mendorong dirinya untuk lebih giat beramal sholih dari yang telah dia capai selama ini, dan hal seperti ini di dalam ayat2 Al Qur'an Allah subhanahu wa ta'alaa memerintahkan untuk berlomba-lomba dalam melakukan amal shalih kepada hambaNya.

Demikian pula sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dikatakan bahwa sesungguhnya seorang hamba Allah itu tidak akan masuk syurga karena amalnya.

Dari hadist tersebut menuntun pola pikir seorang Muslim bahwa sebaiknya ketika dia sedang melakukan sebuah amal sholih maka harus benar2 memperhatikan rasa taqarrubnya kepada Allah subhanahu wa ta'alaa dan kemudian dari rasa penghambaan itu tumbuh harapan yang besar atas tercurahnya rahmat Allah agar amal2 nya diterima dan menjadi penyebab dimasukkannya dirinya kedalam SyurgaNya.

Oleh karena itu seorang Muslim pantang muncul rasa dan sikap berputus asa baik terhadap segala ujian maupun amal sholih yang pernah dia kerjakan.
Karena pada setiap amal sholih sekecil apa pun yang telah dikerjakan, insyaAllah akan ada perhitungan dan balasannya dari Allah ta'alaa.

Adapun bersabar dan bersyukur akan senantiasa menjadi sahabat bagi seorang Muslim yang memiliki kematangan keimanan didalam menjalani liku2 kehidupannya.

Sehingga dengannya insyaAllah akan menjadi sebab turunnya rahmat Allah ta'alaa kepadanya. Dengan keadaan itu pula memberi peluang yang sangat besarlah untuk meraih kemuliaan disisi Allah, baik kehidupan di dunia maupun di akhiratnya.

🍃 Sendi Keimanan Kelima ;

5⃣. TIDAK MENYEPELEKAN DOSA.

Seorang Muslim tidak boleh menyepelekan kemaksiatan sekecil apapun. Karena bisa jadi kemaksiatan yamg dilakukan itu dipandang sebagai perkara yang besar bagi Allah Subhanahu wa ta'alaa.

Hal ini sebgaimana yang pernah disabdakan oleh Rasulullah sholallahu 'alaihi wassalam dalam sebuat Hadist bahwa beliau shalallahu 'alaihi wassalam melarang kita menyepelekan dosa-dosa. Oleh karena itu melazimkan Taubat adalah sebuah amal sholih yang harus diutamakan.

Seorang Muslim juga tidak layak membanggakan amal-amal sholihnya, karena dia sendiri tidak akan tahu apakah amal2 sholihnya tersebut ditrima atau tidak oleh Allah subhanahu wa ta'alaa.

Oleh karena sebuah sikap yang bijak bagi seorang Muslim yang selalu memberi perhatian atas segala amal2 yang dia kerjakan. Memberi perhatian ini maksudnya adalah memperhatikan keutamaan dari amal2 itu  serta melakukan penjagaan terhadap keihalasan hatinya hingga amal tersebut benar2 sampai dan ditrima oleh Allahu ta'alaa.

🍃 Sendi Keimanan Keenam ;

6⃣. MEMILIKI PERHATIAN ATAS UNSUR LILLAH , BILLAH  & FILLAH DALAM SETIAP MENGERJAKAN AMAL SHALIH.

Ada setidaknya 3 hal yang harus menjadi pilar utama seorang Muslim hingga dia bisa merasa gembira dan optimis atas ditrimanya amal2nya oleh Allah subhanahu wa ta'alaa. Yakni :

🔹 LILLAH🔹
🌾 - Amal tersebut harus Lillah ;
Artinya bahwa amal tersebut harus dia lakukan karena rasa cintanya, rasa takutnya dan juga rasa harapnya kepada Allah ta'alaa semata.

🔹BILLAH🔹
🌾 - Amal tersebut harus Billah ;
Artinya bahwa setiap amal sholih yang dia lakukan harus teriring rasa penghambaan dengan senantiasa menyertakan Allah ta'alaa dalam pelasanaannya. Melibatkan Allah baik dari awal sampai akhir pelasanaannya. Gambaran konkritnya adalah dengan mengucap basmallah adalah contoh aplikasi dari Billah dalam setiap amal. Lebih dari itu akan semakin sempurna jika dia berdoa memohon pertolongan kepada Allah ta'laa dalam pelasanaannya.
Dengan senantiasa melibatkan Allah dan bersandar kepadaNya, maka seseorang Muslim akan terhindar dari rasa sombong dan ujub, justru sebaliknya akan tumbuh bersemi rasa syukurnya karena dia merasakan seti
Lap tapakan amal sholihnya dia yakini merupakan inayah (pertolongan) yang telah Allah berikan kepadanya.

🔹FILLAH🔹
🌾 - Amal tersebut harus Fillah ;
Artinya dari Allah sumber petunjuk pelaksanaannya. Karena hanya amal yang bersumber atas perintah dan larangan Allah baik yang tertuang di Al Qur'an maupun Hadist2 Nabi sholallahu 'alaihi wassalam saja yang akan sampai dan diterima olehNya.

🍃 Sendi Keimanan ke
7⃣. SELALU MENGUTAMAKAN URUSAN AKHIRAT DARIPADA URUSAN DUNIA DIDALAM BERAKTIVITAS .

Dalam hidup ini begitu banyaknya ragam aktivitas yang harus dijalani. Setiap aktivitas tersebut selalu memerlukan pertimbangan yang kemudian harus  diputuskan untuk dilaksanakan atau tidak.

Seperti contoh sederhana saja, jika seseorang merasa lapar disuatu perjalanan, kemudian harus masuk ke sebuah restaurant, dimana ada beberapa restaurant yang tersedia di depannya. Maka pada saat seperti ini hati dan akal akan segera bekerjasama untuk menentukan restaurant mana yang akan dipilihnya. Apabila antara hati dan akal dihiasi oleh keimanan maka jika keimanannya kuat maka dia akan segera mengambil keputusan untuk masuk ke restaurant yang sudah bisa dipastikan kehalalannya.

Sedangkan jika keimanan itu tipis maka dia akan masuk ke restaurant mana saja yang penting bersih dan nyaman serta makanan yang disajikan tampaknya lezat, hanya terkadang saja mempertimbangkan masalah kehalalannya.  Apakah restaurant tersebut memiliki identitas halal atau tidak tidak terlalu merisaukannya.
Sedangkan bagi yang tidak memiliki iman maka tak akan terlintas sedikitpun pertimbangan kehalalan atas makanan yang akan dia makan.

Demikianlah yang terjadi pada setiap proses pengambilan keputusan didalam  segala aktivitas kehidupan kita. Keimanan akan selalu menjadi pengendali  aktivitas kita apakah akan mengha silkan pahala atau dosa. Apakah diri kita menjadi orang yang taqwa dimanapun berada atau bukan. Ini hal yamg penting yang harus menjadi perhatian seorang Muslim.

Seorang yang memiliki keimanan yang kuat maka dia akan selalu mendahulukan segala sesuat yang berakibat keselamatan akhiratnya daripada sekedar kenikmatan dunianya. Dia akan selalu mengingat hukum-hukum Allah ketika akan melangkah baik dalam urusan besar maupun urusan sepele. Penerapan hukum/syariat Islam ini akan selalu melekat dalam dirinya dalam segala situasi dan kondisi. Karena dia terobsesi oleh kemuliaan dirinya disisi Allah subhanahu wa ta'alaa sebagai hamba yang bertaqwa.

Oleh karena itu Menuntut Ilmu akan senantiasa menjadi bagian dari aktivitas utamanya dalam mengisi waktu hidupnya, karena dia sadar bahwa hanya dengan ilmu Agama (mempelajari Al Qur'an dan Al Hadist) dia akan dapat melaksanakan berbagai ketaatan dan menjauhi hal2 yang dilarang.

Waallahu a'laam.

Akhir kata, selamat berjuang menjadi hamba yang berilmu, beriman dan bertaqwa !

اللهم صلى على نبينا محمد و على آله و اصحابه و سلم...


وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب


اخير الدعو انا، عن الحمد لله رب العلمين

Billaahi taufiq wal hidayah,

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wa barokaatuh.mks

Sabtu, 02 Mei 2015

Meminta Pertimbangan

"Meminta Pertimbangan"

قال طلحة  بن عبيد الله رضي الله عنه: لا تشاور بخيلاً في صلة، ولا جبانًا في حرب، ولا شابًا في جارية.

"Janganlah minta pertimbangan kepada orang yang pelit, dalam urusan shadaqah.
Janganlah minta pertimbangan kepada orang yang penakut, dalam urusan perang.
Dan janganlah minta pertimbangan kepada anak muda (yang belum menikah), dalam urusan wanita." [S. Thalhah bin Ubaidillah RA]

Allah SWT berfirman:
فاسألوا أهل الذكر إن كنتم ﻻ تعلمون
"Bertanyalah kepada ahli dzikir (ilmu), bila kalian tidak mengetahui" [QS. an-Nahl: 43, al-Anbiya': 7]

Bertanyalah kepada orang yang telah mengetahui!

Orang yang pelit, belum mengetahui manisnya shadaqah. Justru baginya shadaqah itu pahit. Maka janganlah meminta pertimbangan kepadanya dalam urusan shadaqah, karena ia  akan cenderung melarangnya.

Orang yang penakut, belum mengetahui manisnya berperang. Justru baginya berperang itu pahit. Maka janganlah meminta pertimbangan kepadanya dalam urusan berperang, karena ia  akan cenderung melarangnya.

Orang yang belum menikah, belum mengetahui manisnya menikah. Justru baginya menikah itu merepotkan. Maka janganlah meminta pertimbangan kepadanya dalam urusan menikah, karena ia  akan cenderung melarangnya.

Begitu pula dalam urusan Khuruj fii Sabilillah (keluar di Jalan Allah, untuk menda'wahkan agama-Nya), jangan meminta pertimbangan kepada orang yg belum pernah 'khuruj'. Karena ia belum merasakan manfaat 'khuruj'; bahwa dengan 'khuruj' akan memantapkan keyakinan kepada Allah, menjadikan zuhud terhadap dunia, meningkatkan kerinduan pada akhirat, dst...

Walhasil, meminta pertimbangan -dalam segala urusan- itu penting. Tetapi, harus kepada ahlinya. Jangan kepada orang yang belum memahami dan merasakannya!,mks

Istiqomah

Bismillaah...

KEUTAMAAN ISTIQAMAH

Oleh : Al-Ustadz Yazid bin ’Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٣٠﴾ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ﴿٣١﴾ نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Rabb kami adalah Allâh," kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allâh) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."
[QS. Fushshilat : 30-32].

Maksudnya, mereka beriman kepada Allâh Yang Maha Esa kemudian istiqamah di atasnya dan di atas ketaatan hingga Allâh mewafatkan mereka. [1]

Tentang ayat di atas, al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
”Mereka mengikhlaskan amal semata-mata karena Allâh dan melaksanakan ketaatan sesuai dengan syari’at Allâh.” [2]

Ayat ini menunjukkan bahwa para malaikat akan turun menuju kepada orang-orang yang istiqamah ketika kematian menjemput, di dalam kubur, dan ketika dibangkitkan. Para malaikat itu memberikan rasa aman dari ketakutan ketika kematian menjemput, menghilangkan kesedihannya dengan sebab berpisah dengan anaknya karena Allâh adalah pengganti dari hal itu, memberikan kabar gembira berupa ampunan dari dosa dan kesalahan, diterimanya amal, dan kabar gembira dengan surga yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. [3]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat ini :

تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ

"Maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka," yakni di saat kematian sambil berkata,

أَلَّا تَخَافُوا

"janganlah kamu merasa takut," yaitu dari perkara-perkara akhirat yang akan mereka hadapi,

وَلَا تَحْزَنُوا

"dan janganlah kamu bersedih hati," yaitu dari perkara-perkara dunia yang telah kalian tinggalkan, seperti anak-anak, keluarga, harta, agama, karena sesungguhnya Kami akan menggantinya.

وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

"Dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu," lalu mereka diberi kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan tercapainya kebaikan.

Firman Allâh,

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

"Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat," yaitu para malaikat berkata kepada orang-orang mukmin ketika kematian,

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ

"Kamilah pelindung-pelindungmu"; yakni pendamping-pendamping kalian di dalam kehidupan dunia, kami menunjukkan, mengarahkan, dan melindungi kalian dengan perintah Allâh. Begitu juga kami akan bersama kalian di akhirat, menemani kesendirian kalian di alam kubur, ketika ditiupnya sangkakala, dan mengamankan kalian pada hari kebangkitan dan berkumpulnya manusia, serta membawa kalian melintasi ash-shirâth al-mustaqîm, dan menyampaikan kalian ke surga yang penuh nikmat.

Firman Allâh,

وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ

"di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan," yaitu di dalam surga kalian akan memperoleh segala yang kalian pilih yang diinginkan oleh jiwa kalian dan disenangi oleh diri kalian.

وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

"Dan memperoleh apa yang kamu minta," yaitu apapun yang kalian minta akan kalian dapatkan dan tersedia di hadapan kalian, sebagaimana yang kalian inginkan.

Firman Allâh,

نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

”Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allâh) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang," yaitu hidangan, pemberian, dan kenikmatan dari Rabb Yang Maha Pengampun atas dosa-dosa kalian, Maha Mengasihi kalian serta Maha lembut, di mana Dia mengampuni, memaafkan, menyayangi, dan mengasihi (kalian). [4]

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ ) .قُلْنَا : يَارَسُولَ اللهِ، كُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ. قَالَ: (لَيْسَ ذَاكَ كَرَاهِيَةَ الْمَوْتِ، وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حُضِرَ جَاءَهُ الْبَشِيرُ مِنَ اللهِ عَزَّوَجَلَّ بِمَا هُوَ صَائِرٌ إِلَيْهِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَكُونَ قَدْ لَقِيَ اللهَ عَزَّوَجَلَّ، فَأَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ. وَإِنَّ الْفَاجِرَ أَوِ الْكَافِرَ إِذَا حُضِرَ جَاءَهُ بِمَا هُوَ صَائِرٌ إِلَيْهِ مِنَ الشَّرِّ أَوْ مَايَلْقَاهُ مِنَ الشَّرِّ، فَكَرِهَ لِقَاءَاللهِ، وَكَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ).

Barangsiapa menyukai perjumpaan dengan Allâh, niscaya Allâh suka untuk menjumpainya. Dan barangsiapa membenci perjumpaan dengan Allâh, niscaya Allâh benci menjumpainya.” Kami bertanya, ”Ya Rasûlullâh, kami semuanya benci kepada kematian.” Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, ”Bukan itu yang dimaksud benci kematian. Akan tetapi jika seorang Mukmin berada dalam detik kematiannya, maka datanglah kabar gembira dari Allâh Ta’ala tentang tempat kembali yang ditujunya. Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintainya daripada menjumpai Allâh Ta’ala, maka Allâh pun suka menjumpainya. Dan sesungguhnya orang yang jahat atau kafir jika berada dalam detik kematiannya, maka datanglah berita tentang tempat kembali yang dituju berupa keburukan atau apa yang akan dijumpainya berupa keburukan, lalu dia benci bertemu dengan Allâh, maka Allâh pun benci menemuinya. [5]

Berbagai Wasilah (Cara) Agar Tetap Teguh Di Atas Istiqamah.

Agar tetap teguh di atas istiqamah maka seseorang harus melakukan hal-hal berikut :

1. Taubat nasuha.

2. Senantiasa mentauhidkan Allâh dan menjauhkan syirik.

3. Selalu berusaha untuk selalu konsekuen dan konsisten dalam ketaatan kepada Allâh dan Rasul-Nya.

4. Muraqabatullâh, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allâh Ta’ala baik dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.

5. Muhasabah, yaitu menginstrospeksi segala amal perbuatan yang telah dikerjakan.

6. Mujâhadah, yaitu berjuang sungguh-sungguh menggembleng jiwa di atas ketaatan kepada Allâh Ta’ala.

7. Ikhlas dalam beramal dan mutaba’ah (mengikuti contoh Rasûlullâh).

8. Berpegang teguh kepada Sunnah dan menjauhi bid’ah.

9. Menjaga shalat lima waktu dengan berjama’ah di masjid.

10. Berani dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar.

11. Senantiasa menuntut ilmu syar’i.

12. Takut kepada Allâh Ta’ala dengan mengingat pedihnya siksa neraka.

13. Mencari teman yang shâlih.

14. Menjaga hati, lisan, dan anggota badan serta sabar dari hal-hal yang diharamkan.

15. Mengetahui langkah-langkah setan.

16. Senantiasa berdzikir dan berdo’a agar diteguhkan di atas istiqamah.

Diantara do’a yang sering Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam baca ialah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. [6]

Wallâhua’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVII/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196].

_________
Footnote :
----------------
[1]. Lihat Syarh Arba’in Ibni Daqiqil ‘Ied, hlm. 85.
[2]. Tafsîr Ibni Katsîr, VII/175.
[3]. Lihat Tafsîr Ibni Katsîr (VII/177) dengan diringkas dan Qawâ’id wa Fawâ-id (hlm. 186-187).
[4]. Tafsîr Ibni Katsîr (VII/177-179) dengan ringkas.
[5]. Shahîh: HR Ahmad, III/107.
[6]. Shahîh: HR at-Tirmdizi (no. 3522) dan Ahmad (VI/302, 315) dari Ummu Salamah radhiyallâhu ’anha.mks

Persaudaraan Dalam Islam

Persaudaraan Dalam Islam
Umar Bin Khattab pernah berkata : Aku tidak mau hidup lama di dunia yang jfana ini, kecuali karena tiga hal : Keindahan berdakwah dan berjihad di jalan-Nya. Repotnya bangun dan berdiri untuk Qiyamul Lail. Dan indahnya bertemu dengan sahabat-sahabat seiman.

Mungkin kisah berikut ini mampu mengawal perasaan kita. Betapa ukhuwah itu merupakan penanda iman kita.

Semenjak Rasulullah wafat, Bilal menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengumandangkan adzan lagi.

Ketika Khalifah Abu Bakar memintanya untuk menjadi muadzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata : Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.

Abu Bakar pun tak bisa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan.

Kesedihan sebab ditinggal wafat Rasulullah terus mengendap di hati Bilal. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia ikut pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria.

Lama Bilal tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Rasulullah hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya : Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?

Bilal pun bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah ke makam Rasulullah. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Rasulullah.

Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah, pada sang kekasih.

Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasulullah Hasan dan Husein. Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Rasulullah tersebut.

Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal : Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami.

Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.

Bilal pun memenuhi permintaan itu.
Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Rasulullah masih hidup.

Mulailah dia mengumandangkan adzan.

Saat lafadz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali.

Ketika Bilal meneriakkan kata Asyhadu an laa ilaha illallah, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar.

Dan saat bilal mengumandangkan Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan.

Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah diantara mereka.

Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah wafat. Adzan yang tak bisa dirampungkan.

Bayangkan kita seolah sedang hidup bersama di tengah-tengah mereka.

Hamba-hamba Allah yang selalu terhubung dengan langit dan merasakan indahnya ukhuwah dalam kebenaran dan kemuliaan.

Maka jika masih ada batas dalam perjalanan ukhuwah kita, bisa dipastikan kita telah gagal menggenggam makna ukhuwah yang sebenarnya.

Ada sebuah nasihat dari Ibnul Qoyyim Al Jauziyah : Ukhuwah itu hanya sekedar buah dari keimanan kita kepada Allah.

Jadi jika ukhuwahnya bermasalah mari kita evaluasi keimanan kita kepada-Nya..mks